ISAT pada Qtel

Tanggal 6 Juni lalu, Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia) menjual seluruh kepemilikannya atas Indosat (share purchase agreement/SPA) sebesar 40.8% kepada Qatar Telescom QSC (Qtel) melalui akuisisi Asia Mobile Holdings Pte0. Ltd (AMH). Penjualan saham senilai 2,4 miliar dolar Singapura atau US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,740 triliun ini sangat rapi. Bahkan terkesan ditutup-tutupi karena penjualannya berlangsung saat weekend yang mana merupakan waktu dimana pasar sedang libur. Tak heran kemudian penjualan ini tidak terendus pasar.

Dulu, sewaktu membeli ISAT, STT merogoh dana US$ 630 juta atau Rp 5,62 triliun untuk 434.250.000 saham (86.8500 lot) dengan harga Rp 12.950,00 per lembar sahamnya. Dengan kata lain, dari penjualan kepemilikan itu, STT telah ‘balik modal’ karena nilainya sekitar 3 kali nilai belinya.

Kisah penjualan ini mengingatkan kita akan cerita tahun 2002 yang lalu. Saat dengan lugunya (lucu dan guob**knya), Indosat (ISAT) akhirnya jatuh ke tangan Temasek dengan harga yang sangat murah. Laksamana Sukardi, Menneg BUMN ketika itu, disebut-sebut sebagai dalangnya. Memang jika ditilik lebih dalam, penjualan itu terasa janggal.

Menurut Marwan Batubara, mantan GM ISAT, Temasek membeli saham ISAT dengan membawa uang pinjaman dari bank. Ketika sudah terbeli, saham Indosat kemudian dijaminkan ke bank lain. Perolehan dari saham ISAT ini kemudian digunakan untuk membayar pinjaman di bank sebelumnya. Bahasa gampangnya, sedikit ‘gali lubang tutup lubang’ deh. Saat itu memang Indonesia sedang mengalami krisis fiskal dan, seperti sekarang, APBN perlu ditambal. Alih-alih melakukan kegiatan produktif lainnya, kabinet ini justru kemudian menjual aset milik rakyat tersebut ke STT dengan harga murah.

Masih ingat bahwa dulu Laks pernah punya website Laksamana.net? Hostingan website ini diperolehnya dengan cuma-cuma dari infoasia.net. Kabarnya, pemilik hosting ini merupakan kenalan Laks. Kebetulan juga, si pemilik hosting dikenal cukup dekat dengan Temasek. Ah mungkin hanya kebetulan
Sekarang, saat SBY berkeputusan menaikkan harga BBM untuk memperbaiki ekonomi rakyat, Megawati mengkritik pemerintah yang dianggapnya tidak berpihak pada rakyat. saya jadi bertanya-tanya di mana beliau dulu saat aset rakyat justru dijual untuk kepentingan sesaat saja? Lebih baik mana, menaikkan BBM–dengan dampak positif lebih panjang–untuk menambal APBN atau menjual aset rakyat–yang keuntungannya sesaat– untuk menambal APBN? Ah sudahlah

Yang mungkin perlu menjadi catatan juga, penjualan ini berada di zona abu-abu. Ditengarai penjualan ini untuk mengelakkan diri Temasek (STT) dari tekanan KPPU dan putusan PN. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Temasek diganjal kasus monopoli atas kepemilikan saham Telkomsel dan Indosat. Atas vonis PN Jakarta, hakim menyetujui gugatan yang diajukan KPPU. Temasek diharuskan menjual TSEL atau ISAT dan dikenai sejumlah denda. Dalam vonis itu pula, disebutkan bahwa penjualan TSEL atau ISAT diharuskan memenuhi beberapa aturan, seperti: pembeli tidak boleh berafiliasi dengan Temasek, dilakukan secara bertahap, dan setiap pembeli maksimal hanya boleh membeli 10% dari yang dimiliki STT. Menurut KPPU, STT telah melanggar putusan hakim tersebut.

Kepemilikan ISAT oleh STT diwakili oleh Indonesia Communications Limited dan Indonesia Communications Pte Ltd. Kedua perusahaan ini berada di bawah AMH. Pada Januari 2008 Qtel membeli 25% kepemilikan atas AMH. Ini berarti, sejak sebelum putusan dijatuhkan, Qtel telah berafiliasi dengan STT karena AMH merupakan anak perusahaan STT. Di samping itu, penjualan saham ISAT ke Qtel juga dilakukan langsung; tidak bertahap. Terakhir, seharusnya tiap pembeli hanya boleh membeli 10% saja. Tapi, di sini Qtel memperoleh langsung 40.8%.

Sebagai catatan, beberapa waktu lalu Temasek mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas vonis hakim PN Jakarta Pusat tersebut. Tidak lama berselang, tiba-tiba muncul berita bahwa saham ISAT telah beralih tangan ke Qtel. Hal ini membuat KPPU berang. Menurut mereka, Temasek jelas-jelas tidak menghargai hukum yang berlaku di Indonesia. Belum juga masalah selesai, STT malah sudah melakukan penjualan. Yang nantinya mungkin akan jadi masalah adalah sulitnya eksekusi putusan MA karena faktanya STT memang sudah tidak memiliki ISAT lagi.

Fantastiskah penjualan ISAT?
Sepertinya tidak terlalu fantastis juga. Dibandingkan dengan Telkom (TLKM), misalnya. Tahun 2002, TLKM berharga Rp 3.500,00 per lembar saham. Sekarang, per lembarnya sudah mencapai Rp 8.200,00. Berarti kenaikannya mencapai Rp 4.700,00.
Atau bandingkan dengan industri lain: industri tambang. BUMI, lima tahun lalu hanya Rp 1.000,00 per lembarnya. Sekarang, sudah Rp 8.000,00. Maka tak heran, Aburizal Bakrie kekayaannya meningkat tajam. :mrgreen:

Kira-kira bagaimana masa depan ISAT di tangan Qtel?
Qtel merupakan penyedia layanan telekomunikasi dan salah satu perusahaan publik terbesar di Qatar. Februari 2008 lalu, laba bersihnya turun 9.6% akibat amortisasi Wataniya (Kuwait). Misinya, “To be among the top 20 telecommunications companies in the world by the year 2020″. qtel tampaknya semakin agresif pada dua tahun belakangan. Berbagai pengembangan telah di lakukan.

Saya pribadi lebih melihat pada kecenderungan pebisnis Timur Tengah yang jika sudah senang, dia akan mengajak teman-temannya bergabung. Dengan kata lain, jika Qtel merasa senang berinvestasi di Indonesia, sangat mungkin ia akan menarik investor-investor lain dari Timur Tengah untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Ini sebenarnya peluang yang bisa ditangkap Indonesia. Sekalipun nasi sudah menjadi bubur, bagaimana caranya agar bubur itu enak dan bisa dinikmati banyak orang.

Atau justru kita akan membiarkan diri berada dalam genggaman Singapura?

23 Comments »

  1. Moh Arif Widarto Said,

    June 11, 2008 @ 11:53 am

    Kalau saya sih, berapa pun harganya, lebih baik cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai kembali oleh negara.

    Kegiatan menambal APBN dengan menjual BUMN tidak perlu dilakukan lagi.

    setuju
    tapi kalo saya, urusan pengelolaan ke swasta gpp
    karna selama ini terbukti yang dikelola negara most likely kurang efisien
    tapi teteup…pemegang saham terbesar ya pemerintah

  2. silly Said,

    June 12, 2008 @ 12:37 am

    mbakkkk… gile tulisannya berattt, malem2 gini baca tulisan ini berasa udah siang… harus ke bursa efek, hehehhee… :D

    ndak suka nonton bola?… Portugal menang tuh… hihihihi

    hehe..ya maap
    bacanya sambil merem aja
    *jayus ya? :(

    ah..sial portugal menang :P

  3. detnot Said,

    June 12, 2008 @ 10:15 am

    setuju sama komen no.1 jeng
    sbaiknya yang menyangkut hajat hdiup orang bnkn, baiknya di kuasai oleh negara

    iya dunk :D

  4. tc Said,

    June 12, 2008 @ 12:50 pm

    gak ngerti ah..pusingg…meski swami kerja di bidang telekomunikasi.. dan saya juga dulu pernah kerja di kantor yang udah dibeli Qtel ini…
    :(

  5. bangpay Said,

    June 12, 2008 @ 1:56 pm

    lho bukannya temasek juga punya saham di qtel, semacam indikasi penjualan akal-akalan gitu… ah tahu ah.. mumet!

  6. ario saja Said,

    June 12, 2008 @ 2:43 pm

    aku heran yah…. kemarin Indosat mau di Beli pemerintah gak boleh, sekarang malah di jual ke Qatar ??? apa ada udang di balik rempeyek ???

  7. enzha21 Said,

    June 12, 2008 @ 5:29 pm

    blogger bogor rencananya akan mengadakan Talk Show “Menjadi Pelajar Kreatif dengan Ngeblog” yang recananya akan dilaksanakan hari minggu tanggal 29 Juni 2008 di Cibinong, Bogor.

    Mohon sarannya dari para senior….. untuk lebih lanjut silahkan kunjungi http://achoey.wordpress.com/2008/06/12/siapa-bisa-bantu-tebarkan-virus/
    Trims

  8. achoey Said,

    June 12, 2008 @ 9:49 pm

    kalo sahamku di sana masih aman :)

  9. Wempi Said,

    June 13, 2008 @ 10:24 am

    Kepemilikan seharusnya oleh pemerintah. kalo pengelolaan kita pasti setuju diberikan kepada yang bisa mengelolanya apakah itu pemerintah, apakah itu swasta nasional, apakah itu pihak asing, no problem, yang terpenting professional. dan tuh perusahaan milik indonesia.

  10. trijokobs Said,

    June 13, 2008 @ 11:10 am

    Pakde stuju ama jwban comment no1.
    (sopo sing njawab tow.. kok pinter tenan)

    Semoga Qtel ngajakin temennya invest di sini, biar banyak lapangan kerja.

    Ayo Qtel, tak bantuin 10rb, tiap bulan
    (m3 ku buat chatting thok..) :D

    *kapan pindahane ini kok gk makan2*

  11. bangpay Said,

    June 13, 2008 @ 2:27 pm

    penempatan jelas berdasar IPK, namun di jaman jahiliyah macam saya, tetep ada campur tangan uang… untung aku “nrimo” dibuang jauh…

  12. ridu Said,

    June 13, 2008 @ 11:54 pm

    kenapa yah BUMN-BUMN yg strategis pada diprivatisasi?? padahal dari segi profitabilitas, mereka itu menguntungkan.. kenapa di jual?? lama2 rakyat indonesia deh yg digadaikan..

  13. Jiban Said,

    June 14, 2008 @ 8:22 am

    wah penuh liku-liku…

  14. fenny Said,

    June 15, 2008 @ 12:20 am

    menyedihkan memang yah… kenapa justru kita dibodohi oleh bule-bule itu? apa benar-benar kita kekurangan tenaga ahli? ato… kita kurang kaya? brarti penawaran bakrie atas saham ISAT itu kalah telak yah? denger2 dulu bliau uda siapin dana sekian sekian sekian buat ISAT…

  15. zoel Said,

    June 15, 2008 @ 9:47 am

    hmmm kerennn banget analisa nya kk

  16. okta sihotang Said,

    June 15, 2008 @ 9:15 pm

    nggak ngerti2 aku :(

  17. uthie Said,

    June 15, 2008 @ 10:25 pm

    *menghiraukan postingan yg cukup berat*
    eh wen, blog anyar tah? sing lawas piye?
    *OOT :mrgreen:

  18. trijokobs Said,

    June 16, 2008 @ 4:30 pm

    ooooo.. masih sibuk ngurusin ISAT sama Qtel.. tow..
    emang ada lowongan pa..?

  19. ILYAS AFSOH Said,

    June 16, 2008 @ 10:48 pm

    ya, bubur indosat sepertinya masih menjanjikan
    apalagi di campur gandum timur tengah

  20. Ersis Warmansyah Abbas Said,

    June 17, 2008 @ 2:03 pm

    Hebatnya Indonesia menjual aset bangsa … dan oleh bangsa lain dipejualbelikan … kapan ya para petinggi negeri ini berubah pola pikir: Bukan bagaiman menjual aset bangsa tetapi membeli aset bangsa lain. Kapan? kapan-kapan kali

  21. yella Said,

    June 18, 2008 @ 2:05 pm

    nggak ngelti mana yg bagus
    :(

  22. yella Said,

    June 18, 2008 @ 2:06 pm

    gak ngelty mana yg bagys, serahin ke mb we ja dh

  23. fauzansigma Said,

    June 19, 2008 @ 12:37 pm

    ide untuk privatisasi aset negara itu memang gila…! apalagi skrg.. KS??

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment